(Ilustrasi oleh AI-Harmoni Keberagaman Tionghoa-Melayu)
Penulis: A. Maalika Mulki (Pranata Hubungan Masyarakat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung Timur)
Tong Ngin Fan Ngit Jit Jong, sebuah kutipan legendaris yang mengakar kuat di Bumi Serumpun Sebalai, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Memiliki makna “Cina-Melayu Sama Saja” falsafah ini seolah menjadi potret nyata harmonisnya hubungan antara etnis Tionghoa dan Melayu dalam hidup berdampingan. Tahun 2026 ini, kita dihadapkan dengan skenario langit yang indah ketika hangatnya lampion merah dengan gambar kuda serta aroma dupa di kelenteng berpadu dengan suara tarhim yang dikumandangkan dari masjid datang beriringan. Bagi kaum skeptis, ini mungkin hanya jadi kebetulan kalender semata. Tapi, sejatinya ini menjadi sebuah pertanda untuk menegaskan bahwa cinta kasih dari etnis Tionghoa-Melayu bukan hanya sekadar strategi marketing budaya, namun momen untuk menunjukkan bahwa semua ini adalah bukti otentik masyarakat Bangka Belitung yang mencintai kedamaian dalam harmoni.
Sejarah mencatat, akar harmonisasi ini bukanlah fenomena dadakan. Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian menyampaikan, mulanya orang-orang Tionghoa sengaja didatangkan ke Bangka sekitar tahun 1710 masehi oleh Sultan Muhamad Manshur Inlag karena sudah menandatangani perdagangan Timah dengan VOC. Orang-orang yang terikat kontrak penambangan timah atau juga disebut Sinkek ini umumnya adalah laki-laki tanpa istri ini kemudian menikah dengan pribumi Bangka Belitung. Menariknya, dalam aturan hukum adat, Sinkek diperbolehkan menikah dengan Perempuan Bangka Belitung namun, perempuan yang dinikahkan tidak boleh dibawa keluar dari Bangka. Aturan inilah yang menjadi faktor pendorong yang mempercepat peleburan dua budaya berbeda menjadi satu kebudayaan tunggal, mereka yang jadi saudara ini disebut Tong Ngin Fang Ngin Qin Ngin (Cina dan Melayu Bersaudara). Seiring waktu, hubungan ini melebur membentuk ikatan kekerabatan baru yang hingga kini disebut Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong, orang pribumi maupun Tionghoa itu setara dan tidak ada perbedaan dalam segala aspek kehidupan.
Maka jangan heran jika dalam satu keluarga di Bangka Belitung ada yang merayakan Imlek dan di saat bersamaan juga melaksanakan ibadah puasa. Pagi hari ada yang menyiapkan hio, sore harinya ada yang bersiap untuk berbuka puasa. Realitas sosiologis inilah yang menjadikan Bangka Belitung sebagai provinsi dengan umat Konghucu tertinggi di Indonesia. Didukung dengan pernyataan langsung dari Mantan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Saiful Rahmat Dasuki saat tahun 2024 sebagai dasar pemerintah membangun Sekolah Tinggi Agama Konghucu Indonesia Negeri (STAKIN) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada tahun itu, Ketua Umum Dewan Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Budi Santoso Tanuwibowo juga turut mendukung pernyataan ini dengan menyatakan bahwa jumlah umat beragama di Indonesia berdasarkan KTP dengan provinsi yang paling banyak umat Konghucu-nya adalah Babel. Bukan hanya jumlah secara absolut di atas 40.000, tapi presentase dari jumlah penduduk di daerah ini. Ini merupakan pengakuan negara bahwa, Bangka Belitung bukan sekadar etalase toleransi, namun tumbuh menjadi rumah sejati bagi keberagaman.
Toleransi adalah kunci dari terjaganya harmonisasi. Bagi generasi muda hari ini, makna toleransi itu telah berevolusi. Bukan lagi norma pasif untuk “saling menghormati dari jauh” tapi sudah menjadi ajakan aktif untuk saling berkolaborasi. Tidak hanya paham akan makna ini, namun orang tua dan muda saat ini juga sudah menerima budaya satu sama lain dengan penuh sukacita, hidup berdampingan tanpa menimbulkan gesekan yang berarti.
Masih ingat fenomena “War Takjil” yang viral dan menjadi tren tahunan? Fenomena ini menjadi bukti otentik bahwa anak muda termasuk teman-teman nonmuslim justru sangat antusias dalam menyambut Ramadan. Vice versa, pemuda Muslim juga tidak ragu untuk menikmati vibes Imlek, dari sekadar menonton pertunjukan barongsai, berfoto dengan background lampion merah berhiaskan kuda, hingga bersilaturahmi ke rumah teman atau kerabat yang merayakan. Tradisi saling kunjung dan agenda “Bukber” lintas iman seolah sudah melebur menjadi budaya kekinian. Inilah wajah modern dari Tong Ngin Fan Ngit Jit Jong, ketika perbedaan tidak lagi dirayakan sendiri-sendiri, namun dengan berbagi kegembiraan bersama.
Pada intinya, baik Imlek maupun Ramadan mengandung kesamaan nilai yang esensial. Nilai yang terkandung pada Imlek membawa tentang pembaruan diri, harapan baru, dan silaturahmi antar keluarga. Ramadan sendiri adalah tentang nilai-nilai penyucian diri, menahan nafsu, dan silaturahmi. Jika dipadupadankan, keduanya memiliki gambaran dan tujuan yang sama, yaitu untuk menjadi manusia yang lebih baik, membawa istilah “New Year, New Me” dengan versi spiritual.
Indonesia adalah negara dengan hamparan keberagaman yang luar biasa. Jika tidak dirawat dengan baik, perbedaan tentu bisa menjadi celah bagi konflik. Namun, dari kacamata Bangka Belitung, kita belajar untuk melihat keberagaman sebagai ruang kolaborasi yang menyatukan. Kita tidak lagi sekadar melihat bahwa ‘ada etnis Tionghoa dan ada etnis Melayu di Bangka Belitung’, melainkan menyadari seutuhnya bahwa tubuh dan nafas Bangka Belitung itu sendiri dirajut oleh Tionghoa dan Melayu.
Semangat inilah yang harus terus kita kobarkan ke segenap penjuru Nusantara untuk merawat ke-Bhinneka-an kita. Apalagi di tahun 2026 ini, semesta seolah memberikan kita momen ganda yang indah melalui perayaan Imlek dan awal Ramadan. Mari jadikan irisan waktu suci ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali moderasi beragama kita. Mari saling bergandengan tangan, merayakan pembaruan dan penyucian diri, di bawah hangatnya satu matahari yang sama, yaitu Tong Ngin Fan Ngit Jit Jong.
Referensi:
https://babel.antaranews.com/berita/441065/wamenag-bangka-belitung-miliki-umat-konghucu-terbesar-di-indonesia
https://bangka.tribunnews.com/2021/04/03/sejarah-semboyan-tongin-fan-ngin-jit-jong-cerminan-kebhinekaan-di-bangka-belitung






