Kontributor: A. Maalika Mulki (Pranata Hubungan Masyarakat-Ahli Pertama)
Setiap tahunnya pada 21 April, narasi Hari Kartini kerap didominasi oleh simbolisme seperti pengenaan kebaya hingga pawai budaya yang selalu ramai diangkat baik di jagat maya maupun dunia nyata. Namun, sebagai tonggak pergerakan perempuan di Indonesia, semangat Kartini seharusnya tidak hanya menjadi pijakan bagi kaum perempuan semata. Laki-laki pun perlu memaknai momentum ini dengan lebih bijak, sebagai pengingat besar tentang bagaimana nilai-nilai Islam dalam memuliakan manusia dan kewajiban menuntut ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah sebuah pilihan, melainkan mandat suci bagi setiap individu tanpa terkecuali. Tidak ada istilah tebang pilih dalam pendidikan karena hukumnya adalah fardhu ‘ain. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW:
‘Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli Muslim’ (Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan).
Gerakan Kartini dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan adalah manifestasi nyata dari titah agama tersebut. Kartini menyuarakan dengan tegas bahwa perempuan tidak boleh lagi terbelenggu oleh sekat-sekat patriarki yang menempatkan mereka sebagai makhluk kelas dua. Pesan ini lugas, laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang setara di hadapan ilmu, dengan tugas dan fungsi yang saling melengkapi.
Pendidikan bagi perempuan bukanlah sebuah kesia-siaan, apalagi ancaman bagi peran laki-laki. Justru, perempuan yang berwawasan adalah investasi peradaban yang tak ternilai. Sebab, dari tangan ibu yang cerdaslah konsep Madrasatul Ula (sekolah pertama) bermula. Seorang laki-laki Muslim yang bijak akan memahami bahwa memiliki istri, ibu, atau saudara perempuan yang berwawasan luas adalah sebuah anugerah besar, bukan sebuah beban.
Kalimat legendaris R.A. Kartini dalam bukunya ‘Door Duisternis tot Licht’ yaitu, “Habis Gelap Terbitlah Terang” memiliki akar spiritual yang begitu dalam. Kutipan ini diyakini terinspirasi dari potongan Q.S. Al-Baqarah ayat 257 yang berbunyi minadz-dzulumati ilan-nuur (dari kegelapan menuju cahaya). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gagasan kesetaraan sering kali dipromosikan oleh pemikir Barat, akar perjuangan Kartini justru bersumber dari nilai-nilai universal Islam. Sebuah kepercayaan yang menjunjung tinggi keadilan dan memuliakan manusia.
Perjuangan Kartini sejatinya adalah jihad melawan kegelapan berupa kebodohan dan adat feodal yang memasung hak-hak dasar manusia. Dalam konteks zamannya, perempuanlah yang menjadi korban utama dari kungkungan tersebut. Penting untuk digarisbawahi bahwa Kartini tidak sedang memberontak pada kodratnya sebagai perempuan, melainkan ia sedang memberontak pada ketidakadilan sistemik yang menghalangi perempuan untuk berkembang sebagai hamba Tuhan yang utuh.
Dalam kacamata Islam, nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh jenis kelaminnya. Kemuliaan seseorang semata-mata diukur dari kadar takwa dan imannya. Prinsip ini ditegaskan dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 35, yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah Swt baik dalam hak maupun kewajiban untuk beribadah dan beramal saleh. Oleh karena itu, ketika emansipasi dijunjung tinggi dalam bingkai ketakwaan, tidak akan ada satu pun manusia yang akan kehilangan kehormatan dirinya.
Nilai emansipasi yang diperjuangkan Kartini justru menjadi pemantik bagi perempuan untuk terus bergerak, berdaya, dan berkontribusi di berbagai ranah publik. Mulai dari pendidikan, sosial, hingga ekonomi tanpa harus menanggalkan kemuliaan fitrahnya sebagai seorang Muslimah. Sebab pada akhirnya, kesetaraan sejati bukanlah tentang mana yang lebih dominan? Atau mana yang akan memimpin? Melainkan tentang cara keduanya dapat saling melengkapi dalam ketaatan sebagai hamba Allah Swt.
Nilai inilah yang semestinya jadi alarm bagi para ayah, suami, dan saudara laki-laki untuk introspeksi. Hari Kartini seharusnya menjadi momen refleksi atau muhasabah. Sudahkah kita menjadi ayah yang mendukung cita-cita anak perempuan kita? Sudahkah kita menjadi suami yang memberikan ruang bagi istri untuk terus bertumbuh? Atau justru, diam-diam kita masih menjadi “tembok” yang menghalangi mereka untuk mendapatkan hak pendidikan dan pengembangan diri mereka?
Banyak narasi semu yang beredar, perempuan yang berdaya dan hebat secara intelektual tidak akan membutuhkan laki-laki. Seakan-akan kemampuan perempuan untuk berdaya telah menjadi ancaman menakutkan bagi para laki-laki. Narasi usang ini, harus kita buang jauh-jauh, Faktanya, laki-laki yang hebat adalah mereka yang tidak akan merasa takut dan terancam oleh perempuan yang cerdas. Justru, laki-laki yang tangguh adalah mereka yang mampu menjadi support system terbaik, memastikan perempuan di sekitarnya tumbuh menjadi pribadi yang unggul baik secara spiritual dan intelektual.
Kartini adalah cermin. Gambaran ideal yang mengingatkan bahwa, peradaban yang besar hanya bisa dibangun oleh mereka yang merdeka pikirannya, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karenanya, momen Hari Kartini sangatlah tepat jika kita jadikan sebagai pendorong semangat, sebagai energi yang memastikan kita sebagai umat manusia tidak akan lagi masuk ke dalam masa kegelapan, kebodohan, atau terbelenggu patriarki yang menyelimuti lingkungan hingga keluarga terdekat kita. Sebab, menjaga nyala cahaya perempuan cerdas adalah salah satu cara terbaik kita dalam menjaga masa depan untuk generasi mendatang.
