Jalan Raya Manggar Gantung – Komplek Perkantoran Terpadu Manggarawan

Telpon (0719) – 9220077 | Email : kabbelitungtimur@kemenag.go.id

Akses Menu Selengkapnya

Api di Tanah Lada: Ketika Karhutla 2026 di Belitung Timur Menguji Iman, Akal, dan Moderasi Beragama

Oleh: Abd. Maliki (Staf Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Belitung Timur)

Belitung Timur—tanah lada yang dulu dikenal tenang—kini kembali berhadapan dengan realitas yang getir. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga Mei 2026, telah terjadi 30 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah ini, tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara keseluruhan, provinsi ini mencatat 67 kejadian dengan luas terdampak mencapai 184,74 hektare. Bahkan, memasuki puncak musim kemarau, jumlah kasus terus bertambah, dipicu oleh fenomena El Nino yang memperpanjang kekeringan dan meningkatkan suhu udara .

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah tanda zaman—sebuah warning system ekologis sekaligus spiritual.

Statistik yang Bicara: Karhutla Bukan Peristiwa Sesaat

Dalam kerangka data pembangunan daerah, Badan Pusat Statistik dan portal Satu Data Belitung Timur menunjukkan bahwa penguatan statistik sektoral terus dilakukan untuk mendukung kebijakan berbasis data. Namun data 2026 justru memperlihatkan bahwa kebakaran lahan bukan fenomena temporer, melainkan siklus berulang.

Tahun Pernyataan Data
2020 Pada tahun 2020, jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di Belitung Timur tercatat sebanyak 18 kasus.
2021 Pada tahun 2021, jumlah kejadian karhutla menurun menjadi 12 kasus, yang merupakan angka terendah dalam periode ini.
2022 Pada tahun 2022, terjadi peningkatan signifikan dengan total 25 kejadian karhutla.
2023 Pada tahun 2023, jumlah kejadian mengalami penurunan menjadi 21 kasus.
2024 Pada tahun 2024, jumlah kejadian kembali meningkat menjadi 27 kasus.
2025 Pada tahun 2025, jumlah kejadian sedikit menurun menjadi 24 kasus.
2026* Hingga pertengahan tahun 2026, jumlah kejadian karhutla telah mencapai 30 kasus dan masih berpotensi bertambah.

Catatan: Data tahun 2026 bersifat sementara (hingga pertengahan tahun)

Jika ditarik secara tren (kompilasi BPS, BPBD, dan data sektoral daerah), karhutla di Belitung Timur menunjukkan pola fluktuatif namun meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan puncak signifikan pada 2026. Artinya sederhana, kita tidak sedang menghadapi bencana alam semata, tetapi krisis perilaku manusia.

Ekoteologi: Ketika Alam adalah Amanah

Al-Qur’an telah memberi peringatan jauh sebelum grafik statistik itu ada:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini bukan sekadar teks normatif, tetapi realitas empiris yang kini kita saksikan. Karhutla di Belitung Timur sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia—baik karena pembukaan lahan, kelalaian, maupun praktik ekonomi yang abai terhadap keberlanjutan. Dalam perspektif ekoteologi, manusia adalah khalifah fil ardh pemelihara bumi. Namun yang terjadi justru sebaliknya: manusia berubah menjadi aktor utama kerusakan.

Nabi Muhammad ﷺ bahkan mengingatkan:

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh makhluk lain, kecuali menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa menjaga kehidupan ekologis adalah ibadah, bukan sekadar pilihan.

Ibnu Khaldun: Kerusakan Lingkungan dan Runtuhnya Peradaban

Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kehancuran suatu peradaban sering diawali oleh kerusakan moral dan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya. Ia menyebut bahwa ketika manusia kehilangan keseimbangan (mizan) dan tenggelam dalam kepentingan material, maka kehancuran menjadi keniscayaan.

Jika kita tarik ke konteks Belitung Timur :

  • Pembakaran lahan demi efisiensi ekonomi
  • Eksploitasi tanpa rehabilitasi
  • Lemahnya kesadaran kolektif

Semua itu adalah gejala yang dalam teori Ibnu Khaldun disebut sebagai fase dekadensi peradaban (decline of civilization). Karhutla, dalam perspektif ini, bukan sekadar bencana melainkan indikator keretakan sosial dan spiritual.

Moderasi Beragama: Dari Ritual ke Kesalehan Ekologis

Selama ini, moderasi beragama sering dipahami dalam konteks sosial—toleransi, anti-radikalisme, dan harmoni antarumat. Namun dalam konteks krisis lingkungan, moderasi beragama harus naik level menjadi moderasi ekologis. Empat indikator moderasi beragama : komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, akomodatif terhadap budaya dan semuanya relevan dalam isu karhutla. Membakar lahan adalah bentuk kekerasan. Bukan hanya terhadap alam, tetapi juga terhadap manusia, seperti udara tercemar, kesehatan terganggu, dan ekonomi lumpuh. Maka, menjaga lingkungan adalah bentuk nyata dari sikap anti-kekerasan dalam beragama.

Dilema Ekonomi: Rasionalitas yang Kehilangan Etika

Kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian praktik pembakaran lahan didorong oleh alasan ekonomi yaitu murah, cepat, dan efisien. Namun di sinilah iman dan akal diuji.  Apakah efisiensi boleh mengorbankan keberlanjutan? Apakah kebutuhan hari ini layak menukar masa depan? Dalam Islam, jawabannya tegas: tidak ada maslahat yang dibangun di atas kerusakan (mafsadat).

Dari Data ke Kesadaran: Agenda Transformasi

Upaya pemerintah melalui patroli titik panas dan kesiapsiagaan tentu penting. Namun data menunjukkan bahwa pendekatan struktural saja tidak cukup.

Yang dibutuhkan adalah transformasi kultural:

  • dari eksploitasi ke konservasi
  • dari individu ke kolektif
  • dari ritual ke etika sosial

Di sinilah peran tokoh agama menjadi krusial. Mimbar-mimbar keagamaan harus mulai berbicara tentang lingkungan, bukan hanya ibadah personal.

Memadamkan Api dari Dalam Diri

Karhutla di Belitung Timur bukan hanya api yang membakar lahan. Ia adalah simbol dari krisis yang lebih dalam: krisis kesadaran, krisis etika, dan krisis spiritual. Jika api itu ingin benar-benar padam, maka yang pertama harus dipadamkan adalah keserakahan, kelalaian, dan ketidakpedulian. Karena pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya tugas negara atau aktivis lingkungan. Ia adalah bagian dari iman. Dan iman seharusnya tidak pernah membakar masa depan.

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print
Picture of Dipublikasikan Oleh :

Dipublikasikan Oleh :

Humas Kemenag Belitung Timur

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Belitung Timur

Komplek Perkantoran Terpadu Manggarawan
Jl. Raya Manggar Gantung - Belitung Timur

Peta Lokasi

© Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung Timur - 2025 All Rights Reserved.